Menu

Lomba Ogoh Ogoh

  • Senin, 23 Maret 2015
  • 2553x Dilihat

Prosesi Ogoh-Ogoh serangkaian dengan upacara Tawur Kesanga adalah sebuah ekspresi kreatif masyarakat Hindu di Bali, khususnya di Kota Denpasar, di dalam memaknai perayaan pergantian Tahun Caka. Masyarakat menciptakan Ogoh-Ogoh Bhutakala seperti : Kala Bang, Kala Ijo, Kala Dengen, Kala Lampah, Kala Ireng, dan banyak lagi bentuk-bentuk lainnya, sebagai perlambang sifat-sifat negatif yang harus dilebur agar tidak menggangu kehidupan manusia. Ogoh-Ogoh Bhutakala yang diciptakan kemudian dihaturkan sesaji “natab caru pabiakalan” sebuah ritual yang bermakna “nyomia”, mengembalikan sifat-sifat Bhutakala ke asalnya. Ritual tersebut dilanjutkan dengan prosesi Ogoh-Ogoh, seluruh lapisan masyarakat bersama-sama mengusung Ogoh-Ogoh mengelilingi jalan-jalan desa dan mengitari catus pata sebagai simbol siklus sakral perputaran waktu menuju ke pergantian tahun Caka yang baru. Setelah ritual dan prosesi Ngerupuk tersebut Ogoh-Ogoh Bhutakala itupun “di-prelina”, mengembalikan keasalnya dengan dilebur atau dibakar.

Layaknya prosesi umunnya di Bali di Kelurahan Padangsambian pawai berlangsung semarak dan meriah aman dan lancar, Mengingat kali ini sbha yoawana untuk kesekian kalinya menggelar parade ogoh ogoh yang dilombakan dengan dukungan dari Desa Pakraman dan Kelurahan. Dari prediksi 38 ogoh-ogoh berkembang menjadi 86 ogoh-ogoh. Sebuah kreativitas yang luar biasa dari generasi muda apalagi dikemas dengan fragmen tari sebagai bagian dari sebuah penilaian tim juri yang dihadirkna langsung dari ISSI .