Pada hari Selasa, 21 Maret 2023 merupakan Hari Tawur Ke Sanga yang merupakan 1 hari perayaan sebelum pelakasanaan Hari Puncak Catur Brata Penyepian atau Hari Raya Nyepi. Pada hari ini juga dilaksanakan parade ogoh-ogoh yang diarak keliling desa/kelurahan sebagai bentuk dari pelestarian salah satu budaya di Bali. Selain itu juga, Ogoh-ogoh juga merupakan cerminan sifat-sifat negatif pada diri manusia yaitu adharma svarupa. Manusia selalu memiliki dua sisi kehidupan yaitu positif dan negatif.
Ogoh-ogoh dibuat oleh masyarakat sebagai wujud sifat-sifat negatif yang ada pada diri manusia sehingga menjadi terbuka. Ogoh-ogoh seakan memberikan pesan bahwa sifat negatif tersebut tidak perlu ditakuti namun perlu untuk diamati bersama agar manusia dapat memahaminya. Selain itu, ogoh-ogoh juga diarak keliling desa/kelurahan yang bertujuan agar bhuta kala/setan yang ada di sekitar desa tersebut ikut bersama dengan ogoh-ogoh. Hal tersebut berdasar pada anggapan bahwa butha kala/setan akan melihat ogoh-ogoh sebagai rumah mereka dan kemudian akan ikut terbakar.
Cendekiawan Hindu Dharma kemudian mengambil kesimpulan bahwa ogoh-ogoh melambangkan keinsafan manusia akan kekuatan alam semesta. Kekuatan alam semesta tersebut dibagi menjadi dua yaitu kekuatan Bhuana Agung dan kekuatan Bhuana Alit. Kekuatan Bhuana Agung adalah kekuatan alam raya, sedangkan Bhuana Alit adalah kekuatan yang ada dalam diri manusia. Kedua kekuatan tersebut bisa dipakai untuk menghancurkan dunia atau sebaliknya, dapat membuat dunia menjadi lebih indah. (Sumber : merdeka.com)
20 Oktober 2025
01 September 2025
21 Oktober 2025