Menu

PUSKESMAS I DENPASAR BARAT SOSIALISASIKAN DBD, RABIES, CHIKUNGUNYA DI BANJAR BUANA DESA, KELURAHAN PADANGSAMBIAN

  • Selasa, 10 Mei 2016
  • 1217x Dilihat

Padangsambian, Mengawali Bulan Mei 2016, (1/5) Puskesmas Denpasar Barat I  menyelenggarakan Sosialisasi Demam Berdarah Dengue, Chikungunya, dan Rabies di Banjar Buana Desa, Kelurahan Buana Desa.

Pembicaraan tentang penyakit chikungunya dan penyakit demam berdarah di masyarakat kota Denpasar khususnya Kelurahan Padangsambian, sempat menghangat pada beberapa waktu yang lalu. Pembicaraan ini didorong oleh kenyataan adanya peningkatan jumlah penderita demam berdarah di sekitar Kelurahan Padangsambian.

Sekalipun penyakit chikungunya tidak menyebabkan kematian, namun perawatannya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Namun demikian upaya pemberantasannya guna memutus mata rantai penyebaran penyakit tersebut tetap merupakan prioritas, karena penyakit ini sangat menkhawatirkan jiwa generasi yang akan datang.

PENYAKIT CHIKUNGUNYA DAN DEMAM BERDARAH

Chikungunya merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus chikungunya, sedangkan demam berdarah disebabkan oleh virus dengue. Kedua penyakit ini menampakkan gejala klinis yang berbeda. Penyakit chikungunya mempunyai gejala demam, radang sendi yang terasa sangat sakit terutama di daerah pinggang, lutut, tumit dan pada ujung jari-jari kaki dan tangan. Selain itu, terdapat bintik-bintik merah pada kulit yang tidak disertai rasa nyeri maupun gatal. Gejala sakit/linu pada sendi sangat dirasakan antara 1 – 10 hari lamanya. Sedangkan gejala demam berdarah sebagai berikut: demam tinggi, adanya penjelmaan pendarahan dan cenderung menimbulkan renjatan (syok) yang dapat menyebabkan kematian.

Gejala demam chikungunya mirip dengan demam berdarah dengue yaitu demam tinggi, menggigil, sakit kepala, mual, muntah, sakit perut, nyeri sendi dan otot, serta bintik-bintik merah pada kulit terutama badan dan lengan. Namun pada penderita chikungunya tidak ada pendarahan hebat, renjatan (syok) maupun kematian, sebagaimana pada penderita demam berdarah.

PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN

Dalam pemberantasan kedua penyakit ini mempunyai masalah yang sama, antara lain belum ada vaksin serta obatnya. Begitu pula dari aspek binatang penular/vektor penyakit ini mempunyai kesamaan yaitu nyamuk Aedes Aegypti. Peranan nyamuk ini sangat besar, karena hanya dengan gigitannya dapat memindahkan virus penyebab kedua penyakit tersebut. Bahkan, kadang-kadang satu ekor nyamuk dapat berkali-kali menggigit beberapa orang,  yang berarti berkali-kali pula memindahkan virusnya. Atas pertimbangan alasan ini, maka pemberantasan kedua penyakit tersebut dititikberatkan pada pemutusan rantai kehidupan nyamuk aedes aegypti.

Dalam hidupnya nyamuk ini melewati 4 tahapan (stadium) yaitu: telur, jentik, kepompong dan nyamuk (dewasa). Biasanya pengendalian populasi nyamuk aedes aegypti dalam rangka pemberantasan penyakit chikungunya dan demam berdarah, dilakukan hal-hal sebagai berikut; 1) Penyemprotan dengan racun pembunuh serangga, misalnya Malathion, 2) Penaburan bubuk abate (temephos), 3) Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)

Upaya pemberantasan/pencegahan penyakit ini akan berhasil apabila dilakukan secara terus-menerus/kontinyu, baik dilakukan secara individu maupun gerakan bersama oleh masyarakat.

Selain DBD dan Chikungunya, Puskesmas Denpasar Barat I memberikan sosialisasi edukasi penanggulangan rabies. Tak hanya orang dewasa yang diundang tapi juga para remaja dan anak-anak. Alasannya, selain karena anak-anak mudah berkomunikasi dan menyampaikannya pada rekannya, resiko serangan gigitan anjing gila juga banyak menyasar pada anak-anak. Dalam kesempatan tersebut diungkapkan bahwa Pemerintah Kota Denpasar sudah berupaya menekan kasus rabies dengan mengoptimalkan vaksinasi pada hewan peliharaan seperti anjing serta sosialisasi pada masyarakat.

Para peserta sangat antusias menyimak acara ini, dengan ditandainya banyaknya pertanyaan yang diajukan dari para peserta kepada narasumber. Nyoman Wisnu selaku Kepala Lingkungan Buana Desa mengapresiasi kegiatan ini. Banyak informasi yang diperoleh dari acara ini sehingga dapat diimplementasikan dalam keseharian terutama pada saat musim yang tidak menentu seperti sekarang ini.