Menu

Operet "Sopaka" Gugah Umat

  • Minggu, 18 Mei 2014
  • 1861x Dilihat

Operet "Sopaka" yang diprakarsai Kepala Sekolah Minggu Buddhis Vihara Buddha Sakyamuni, Aeni Riawati,S.Ag, yang dipentaskan pada perayaan Waisak Santhuticitta 2558 di Wihara (Vihara Buddha Sakyamuni di Jalan Gunung Agung, Denbar, Sabtu (17/5) malam lalu menggugah hadirin (umat), terutama mengenai keteladanan Sang Buddha.

Operet yang dimainkan150 anak-anak Sekolah Minggu Buddhis dan Patria ini menggambarkan kisah perjalanan Sang Buddha. Dikisahkan, dalam perjalanan hidupnya, Buddha banyak mengajarkan dan menolong makhluk untuk jalan dhamma.  Sopaka adalah anak yang ketika berumur empat bulan ditinggal mati ayahnya. Anak itu lalu dibesarkan oleh ibu dan pamannya. Pamannya tidak senang dengan kehadiran Sopaka, sehingga dia dibuang di kuburan. Ketika Sopaka putus asa, dengan kekuatan bathinnya, Buddha mengetahui Sopaka sangat membutuhkan pertolongan. Akhirnya Buddha muncul dan menolong Sopaka untuk dibawa ke wihara.  Sopaka kemudian ditahbiskan menjadi samanera dan menjadi murid Buddha. Meskipun masih belia, tapi Sopaka sangat tekun dan rajin belajar dhamma. Akhirnya anak tersebut mencapai tingkat kesucian tertinggi pada usia 7 tahun.

Perayaan Waisak ini dipadati ribuan umat Buddha, dengan menghadirkan penceramah Bhikku Tejanando Thera. Bhikku Tejanando dalam pesannya mengajak umat Buddha agar mengedepankan kedamaian lahir dan bathin. Umat Buddha juga diharapkan menjadi teladan dalam menjaga kehidupan semua makhluk agar bahagia. "Antarsesama umat manusia di dunia harus menjaga perdamaian dan saling memberi kasih sayang. Masyarakat Indonesia harus semua menyadari dengan pluralisme, namun tetap dalam kerangka Bhinneka Tunggal Ika," tegasnya.

Oleh karena itu, tambah Bhikku Tejanando, perbedaan dalam kepercayaan dan tata cara menyembah Tuhan adalah cerminan dari pluralisme, namun semuanya percaya atas kebesaran Tuhan yang Maha Esa.  "Umat manusia harus mampu saling hidup berdampingan dan tolong-menolong dalam suka maupun duka. Ketika ada musibah harus melakukan perbuatan kemanusian tanpa melihat dari mana asal-usulnya. Dengan perbuatan itu adalah sebagai wujud cinta kasih kepada sesama manusia sebagai makhluk sosial," tandasnya.  

Sebelumnya, Ketua Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi) Bali, Pandita Madya Sudiarta Indrajaya mengatakan tema Tri Suci Waisak 2558 tahun 2014 adalah, "Kerukunan Dasar Keutuhan". Tema yang ditetapkan Sangha Theravada Indonesia secara nasional dengan mengandung tiga aspek, yaitu rukun dari dalam diri sendiri, tidak memunculkan atau menjadi sumber konflik, sehingga keutuhan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara terpelihara dengan baik.

Bapak Walikota Denpasar yang diwakili oleh Aisten II Setda Kota Denpasar I Wayan Gunawan, menyampaiakan Selamat Hari Suci Waisak, semoga kerukunan umat beragama di Denpasar tetap terjaga dengan baik. Masyarakat yang merayakan hari suci ini juga senantiasa diberikan berkah kebahagiaan dan kesejahteraan.